Perjalanan, bukan Penjelasan
Senja sudah mulai menyambut malamnya. Malam melambai-lambaikan tangannya untuk mengungkapkan perpisahan. Makhluk-makhluk malam mulai bergerilya untuk menuju peraduannya, mencari apa-apa yang dapat membuatnya ada. Aku menyaksikannya, menjadi penonton, dan disela-selanya aku merenungkan tentang ‘sesuatu’ yang diciptakan oleh Tuhan untuk dihadirkan sebagai bumbu di dunia ini.
Aku merasakan ‘sesuatu’ ini muncul, terpancarkan dari auramu saat aku jumpa kali pertama denganmu di sebuah toko buku. Bagiku, ‘sesuatu’ ini memang aneh, seketika itu bisa membuatku ‘klik’ padahal aku belum tahu-menahu tentang dirimu, bahkan namamu pun aku belum tahu saat itu.
Ada yang bilang bahwa ‘sesuatu’ ini bisa tumbuh layaknya biji sawo yang kecil, jika ditanam, kemudian dirawat dan dipupuk dengan baik dan benar akan menjadi pohon sawo yang begitu besar dan nantinya akan berbuah pula. Tetapi, apa yang kualami sungguh berbeda. Tidak seperti biji sawo tersebut, ’sesuatu’ ini datang, tertanam dan tumbuh dengan sendirinya tanpa adanya kesengajaanku untuk membuatnya menjadi besar atau bahkan menyediakannya tempat khusus untuk menanam dan merawatnya hingga tumbuh menjadi besar dan kuat. Tidak, sungguh tidak demikian.
Aku pernah bilang kepadamu, bahwa ‘sesuatu’ ini adalah sebuah kemerdekaan yang jalan untuk menuju kesana sangat panjang. Bahkan untuk merasakan kemerdekaan itu aku terhalang dengan yang namanya ‘etika’. Dan ‘etika’ inilah yang membuatku untuk merancang berbagai macam strategi dalam perang melawan ke-egois-an.
Dan, dari pertama hingga saat ini, atau bahkan hingga nanti, aku menganggap bahwa ‘sesuatu’ ini adalah thoriqohku tersendiri untuk menuju kepadaNya. Walaupun sakit, walaupun pahit, tetapi didalam perjalanan ini aku telah mendapat pelajaran banyak hal; tentang kesabaran, ketulusan, keikhlasan dan tentang ‘sesuatu’ itu sendiri.
Malam itu, hujan, terminal,tukang parkir,sepatu cantik yang agak basah, penjual kresek, jas hujan yang membuatmu tetap cantik, sepanjang jalan, mini market, tukang batagor beserta gerobaknya, dan berakhir pada pintu gerbang hunianmu. Seakan semuanya menjadi saksi akan ‘sesuatu’ ini. Dan, tak usahlah engkau repot-repot berpikir sampai 10 kali, karena aku sudah memikirkanya hingga ribuan kali.
Satu lagi, dalam menjalani hari-hariku, ’sesuatu’ inilah yang membuatku terasa lebih punya nyawa, karena dengan ‘sesuatu’ ini, aku merasa ada. Selanjutnya aku ingin mempersembahkan kepadamu, sebuah puisi, “Aku Ingin”, karya Sapardi Djoko Damono, tahun 1982. (Tapi, temukan sendiri di Google atau dibuku Kumpulan Puisi Pujangga Indonesia, hehe ).
Comments
Post a Comment